Subnetting IP


          Subnetting merupakan istilah teknologi informasi yang membedakan network ID dan host ID, di mana subnetting membagi network dari suatu IP Address yang telah diberikan oleh Internet Service Provider (ISP).

          Subnetting hanya dapat dilakukan pada IP address kelas A, IP Address kelas B dan IP Address kelas C. Dengan subnetting akan membuat beberapa network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.



Beberapa tujuan dari subnetting :

1.     Mengefisienkan alokasi IP Address dalam jaringan

2.     Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti (terlalu banyaknya host dalam satu jaringan)

3.     Meningkatkan kinerja dan kecepatan jaringan

4.     Memudahkan network admin dalam administrasi

 

Tahapan membuat Subnet. Secara garis besar, ada 3, yaitu:

1.     Ketahui jumlah network address (network ID) yang dibutuhkan.

a.     Satu untuk setiap subnet LAN

b.     Satu untuk setiap subnet WAN

2.     Jumlah ip address (host ID) yang dibutuhkan tiap subnet.

a.     Satu untuk setiap TCP/IP host

b.     Satu untuk setiap interface router/switch

3.     Tentukan network keseluruhan, subnet, dan range IP tiap subnet.

a.     Subnet mask unik untuk network keseluruhan

b.     Subnet ID unik untuk setiap segmen fisik

c.     Range IP address tiap subnet

 

Data-data subnetting default dengan menggunakan notasi desimal bertitik :

Kelas alamat : Kelas A

Subnet Mask (biner) : 11111111.00000000.00000000.00000000

Subnet Mask (desimal) : 255.0.0.0


Kelas alamat : Kelas B

Subnet Mask (biner) : 11111111.11111111.00000000.00000000

Subnet Mask (desimal) : 255.255.0.0


Kelas alamat : Kelas C

Subnet Mask (biner) : 11111111.11111111.11111111.00000000

Subnet Mask (desimal) : 255.255.255.0

 

Subnetting sama seperti prefix. prefix adalah penunjuk banyak bit dari sebuah IP Address yang merupakan porsi Network ID. Notasi network prefix juga dikenal dengan sebutan notasi Classless Inter-Domain Routing (CIDR). Nilai – nilai bit yang ada di subnet mask didefinisikan oleh RFC 950 sebagai berikut:

·       Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1

·       Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0

 

Contoh Kasus Membuat Subnetting

Misalkan disebuah perusahaan terdapat 200 komputer (host). Tanpa menggunakan subnetting maka semua komputer (host) tersebut dapat kita hubungkan kedalam sebuah jaringan tunggal menggunakan IP Address Private kelas C sebagai berikut:

Network Perusahaan

Alamat Jaringan yang digunakan : 192.168.1.0

Maka Host Pertama : 192.168.1.1

Host Terakhir : 192.168.1.254

Broadcast Address : 192.168.1.255

Subnet Mask Tiap Host : 255.255.255.0

 

Dikemudian hari perusahaan tersebut dibagi menjadi 2 divisi yang berbeda sehingga sebagai network admin akan dihadapkan pada pilihan, yaitu membuat alamat jaringan yang baru, misalnya 192.168.2.0 atau memecah network tersebut dengan teknik subnetting.

Misalkan memilih cara yang kedua, maka yang harus dilakukan adalah mengubah Subnet Mask tiap host dengan Subnet Mask yang baru yang didapat dengan perhitungan subnetting.

 

Menghitung Subnetting dengan Metoda CIDR

CIDR merupakan singkatan dari (Classless Inter Domain Routing) dengan metoda CIDR ini akan menggunakan tambahan network prefix berupa tanda garis miring diikuti dengan angka tertentu, yang akan menentukan banyaknya subnetwork dan host yang bisa kita buat nantinya dari sebuah IP Address yang ada.

Dengan metoda CIDR ini akan mengubah nilai Subnet Mask yang default menjadi subnet mask lain sesuai dengan network prefiknya. Untuk kemudahan perhitungan bisa memanfaatkan tabel subnetting yang sudah jadi seperti contoh dibawah :



Berikut tabel CIDR beserta jumlah host di setiap nilai subnet-mask / CIDR nya



Misalnya memecah network menjadi 2 buah network baru yang masing-masing network bisa menampung maksimal 126 host maka kita gunakan network prefix /25 dengan perincian sebagai berikut :

Network Divisi A
Alamat Jaringan / Subnet A : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.126
Broadcast Address : 192.168.1.127
Subnet Mask Tiap Host : 255.255.255.128 
 
Network Divisi B
Alamat Jaringan / Subnet B : 192.168.1.128
Host Pertama : 192.168.1.129
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Subnet Mask Tiap Host : 255.255.255.128 

 

Dengan teknik subnetting ini akan menciptakan 2 buah network baru yang berbeda network ID dan Broadcast addressnya. Masing-masing komputer dari subnetwork yang berbeda tidak akan bisa saling berkomunikasi sehingga meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti dan meningkatkan performa jaringan.

Apabila dikehendaki agar beberapa komputer dari network yang berbeda tersebut dapat saling berkomunikasi maka harus menggunakan Router.

 

Ketentuan penggunaan CIDR :

·       /8 sampai dengan /15 hanya bisa digunakan oleh kelas A

·       /16 sampai dengan /23 hanya bisa digunakan oleh kelas A dan kelas B

·       /24 sampai /30 bisa digunakan oleh kelas A, kelas B, dan kelas C

 

Rumus Dasar Menghitung Subnetting

Menghitung subnetting adalah kemampuan dalam menentukan kelas IP dan subnet mask yang dibutuhkan.

Jika network tersebut ingin disubnet atau dibagi-bagi lagi, 5 hal yang perlu dipahami:

1.    Berapa subnet yang bisa disediakan dari subnet mask tersebut?

2.    Berapa host yang valid dari setiap subnet?

3.    Berapa block size tiap subnet?

4.    Apa alamat broadcast dari setiap subnet?

5.    Berapa range host yang valid dari setiap subnet?

 

Ada berapa subnet? » 2^x

x adalah jumlah bit 1 di subnet mask. Misalnya 1100000, yang bernilai 1 ada 2, berarti 2^2 = ada 4 subnet yang bisa dibentuk.

Berapa host per subnet? » 2^y – 2

y adalah jumlah bit 0 di subnet mask. Misal 11000000, yang bernilai 0 ada 6, berarti 2^6 – 2 = ada 62 host setiap subnet. Dikurang 2 untuk alamat subnet (network) dan alamat broadcast.

Block size tiap subnet? » Subnet mask – 256

Misal subnet masknya 255.255.255.192 maka 192 – 256 = besarnya block size tiap subnet adalah 64. Kita sebut juga increment size, atau besar intervalnya adalah 64, menjadi 0, 64, 128, 192.

Alamat broadcast tiap subnet?

Gampang ini mah. Kan sudah tahu tadi alamat subnet-subnetnya 0, 64, 128, 192. Alamat broadcast subnet 0, adalah 64-1= 63. Tinggal dikurang 1 dari alamat subnet berikutnya. Gitu juga subnet 64, alamat broadcastnya adalah 127, dan seterusnya dan seterusnya.

Range host yang valid tiap subnet?

Alamat valid yang bisa digunakan di tiap subnet. Misal, jika 64 adalah subnet address (network address)nya, 127 adalah broadcast addressnya. Maka range host addressnya yang valid adalah dari 61 (first host/lower address) sampai dengan 63 (last host/highest address).

 

Menghitung subnetting kelas C, kelas B, dan kelas A

a. Menghitung Subnetting Kelas C

Bit subnet dihitung dari kiri ke kanan. Di kelas C, hanya ada 8 bit porsi host, diambil dari oktet ke 4. Seperti berikut :



Kita tidak bisa menggunakan /31 dan /32, karena setidaknya membutuhkan minimal 2 untuk host, 1 untuk alamat network dan 1 untuk alamat broadcast. Class C memiliki lebar 256 bit host. Bisa memakai 254 ip address untuk dialokasikan, 2 diantaranya digunakan untuk alamat network dan alamat broadcast. Dengan 1 network.

b. Menghitung Subnetting Kelas B

Dengan kelas B, subnet yang bisa dibuat lebih banyak dibanding kelas C. Bisa menggunakan sebanyak 14 bit untuk subneting di kelas B atau 14 buah CIDR, seperti berikut :



Bisa memakai cidr dari /16 sampai dengan /30, ada 14, ya kan? Dari /16 ke /23, adanya di oktet ke tiga. Dari /24 sampai /30, adanya di oktet ke 4 (seperti kelas C sebelumnya).

Saat mensubnet kelas B, kita memiliki space address /16, lalu dipecah (disubnet). Bukan masing-masing networknya /16. Sama seperti kelas C diatas, berarti kita punya space address /24, totalnya. Mau dibuat menjadi 2 subnet, berarti pakai /25. Mau dibuat 4 subnet, berarti pakai /26.

c. Menghitung Subnetting Kelas A

Dari contoh-contoh subnetting kelas B dan kelas C diatas, tidak jauh berbeda dengan subnetting di kelas A. Hanya saja perhitungan subnetting kelas A bisa sampai oktet ke 2.

Karena dengan kelas A, bisa menggunakan cidr /15 hingga /8.

 

 

Kalau mau mensubnet kelas A di oktet ke 3, digunakan CIDR /16 sampai /23. Kalau mau mensubnet di oktet ke 4 digunakan CIDR /24 sampai dengan /30. Ini yang sering digunakan di jaringan medium to high.

Jumlah subnet, dan intervalnya sama. Secara pattern. Namun jumlah hostnya berbeda.

Contoh:

alamat 10.0.0.0 dengan subnet mask 255.192.0.0 atau /10. Berarti binarinya adalah 11000000.00000000.00000000. Jumlah subnet dan interval atau block sizenya sama dengan /18 atau /25. Hanya saja dia di oktet kedua. Paham kan sampai disini?

Kemudian perhitungan hostnya juga berbeda, sebab nilai bit yang off, lebih panjang, yaitu 22 bit. Berarti 2^22-2 = 4,194,304 host setiap subnetnya.                                                                                    


Referensi :

1.    ngonfig.net : subnetting

2.    catatanteknisi.com : Mengenal Teknik Subnetting

3.    idcloudhost.com : Mengenal Apa Itu Subnet Mask

Comments